Menjawab Tuduhan Sesat- siri 1

Kongsikan kepada yang lain
Share

Menjawab Tuduhan Sesat atau Rusak Aqidah berkaitan dengan Yaqazhah, Tawassul, Istighotsah dan gelaran R A

Disusun oleh

K.H. Fahmi Atieq Al Hadi Lc 

(Pengasuh Ponpes Modern Ar Rasilah, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan)

Dr.-Ing. Abdurrahman Riesdam Effendi

(Pimpinan Global Ikhwan, Sentul City Bogor, Jawa Barat)

Pendahuluan

ALHAMDULILLAH, Al Haliimu’alim, Al Hakiimulkhobir, Zulquwwatil Matin, yang sentiasa memberi ruang dan peluang kepada kami untuk berdakwah, berjuang dan berjihad. Kami bersyukur kepada-Mu ya Allah atas rahmat dan nikmat-Mu yang tidak putus-putus Engkau anugerahkan kepada kami. Semoga kekallah pemberian-Mu itu di sepanjang hayat kami untuk kami jadikan sebagai jalan-jalan dan saluran-saluran perjuangan Islam untuk menegakkan sunnah dalam kehidupan.

Selawat dan salam kepada Rasul akhir zaman, keluarganya, para sahabat dan tabiin dan para pejuang yang sambung-menyambung memperjuangkan Islam, yang mana dengan sebab merekalah Islam itu sampai kepada kita, untuk kita menganutnya dan kini memperjuangkannya. Semoga jadilah kami salah seorang umat Muhammad yang mendapat syafaatnya di hari kiamat yang amat dahsyat dan gawat itu.

Pergelutan di antara perjuangan yang hak dengan yang batil senantiasa berlaku sejak zaman Rasulullah SAW dan Nabi-nabi sebelum beliau. Ia mesti berlaku supaya terjadilah sebagaimana kehendak Allah iaitu memenangkan yang hak dan melenyapkan yang batil. Firman Allah dalam Al Qur’an :

Terjemahan: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Al Israk : 81)

Sebab itulah berulang kali berlaku pertentangan sengit antara dua kelompok manusia, yang masing-masing menganggap pihak dialah yang benar. Mustahil rasanya seorang yang menganggap dirinya bersalah dan orang lain benar, berani mengatakan orang lain atau kelompok lain itu sebagai sesat atau memiliki aqidah yang rusak. Bahkan berani menyebarkan selebaran-selebaran dan membuat ‘Road Show’ untuk menceramahkan kesesatan orang lain. 

Berlaku pergelutan antara dua pihak ini juga disebabkan masing-masing menganggap dirinya benar dan orang lain yang salah atau sesat. Justru itu kami tidak punya alternatif lain selain menulis risalah ini dalam usaha membenarkan yang hak dan mempertahankannya dari tuduhan dan fitnah yang dahsyat yaitu aqidah yang rusak atau sesat.

Pada tanggal 17 Desember 2012, jam 10.51 WIB, kami mendapat forward SMS dari seorang kawan di Jayapura Papua yang isinya sebagai berikut:

 

Assalamu Alaikum , Wr.Wb.

Bismillaahirrahmaanirrahim, kami menghimbau kepada saudaraku Muslim/ah, agar tdk terpengaruh ajakan Aliran Global Ikhwan (Darul Arqam) menghadiri acaranya, atas nama mencintai Tuhan Sayangi Sesama, digunakan utk menarik Simpati, tp setelah di dalam ada beberapa Ajaran yg tidak sesuai Aqidah dan Syari’at, diantaranya Pemimpin mereka mengaku selalu berkomunikasi secara langsung dgn Rasulullah SAW (dan itu tidak mungkin dan dusta), mereka meminta (berdo’a) langsung kpd Gurunya seperti: “Abuya tolong jayakan Islam di Papua” 100x dll, sebagian dari Anggota mereka diberi gelar sama dgn Sahabat Nabi “Radiyallaahu Anhu/Anha” diantaranya Dr.Ing.Gina Puspita Radiyallaahu Anha. Jama’ah ini sudah dinyatakan oleh MUI sbg Aliran Sesat. Bentengi diri dan keluarga dari Aqidah yang rusak.

Wslm.

 

Dari SMS di atas penulis mengatakan aqidah Global Ikhwan rusak dengan sebab beberapa Ajaran yg tidak sesuai Aqidah dan Syari’at diantaranya:

Pemimpin mereka mengaku selalu berkomunikasi secara langsung dgn Rasulullah SAW (dan itu tidak mungkin dan dusta)

 Mereka meminta (berdo’a) langsung kpd Gurunya seperti: “Abuya tolong jayakan Islam di Papua” 100x dll, 

Sebagian dari Anggota mereka diberi gelar sama dgn Sahabat Nabi “Radiyallaahu Anhu/Anha” diantaranya Dr.Ing.Gina Puspita Radiyallaahu Anha

Selain itu Penulis menyampaikan bahwa Jama’ah ini sudah dinyatakan oleh MUI sbg Aliran Sesat

Menurut kawan yang mengirimkannya kepada kami via BBM, SMS itu disebarkan ke banyak umat Islam di Papua termasuk ulama-ulama dan tokoh-tokoh masyarakat dan tidak hanya berupa SMS tapi juga dalam ceramah-ceramah dan melalui selebaran-selebaran yang disebarkan di berbagai musholla dan masjid di papua khususnya sekitar Jayapura dan Sentani.

Penulis dan penyebarnya sepasang suami isteri yang kabarnya tokoh ulama, pendidik dan penceramah di Papua. Tentu mereka tidak akan gegabah, sangat berhati-hati serta melakukan kajian dan analisa yang panjang dan mendalam sebelum menuduh akidah sekelompok umat Islam rusak dan kemudian menyebarkan ke berbagai lapisan masyarakat dengan berbagai cara itu. Konsekwensi dari tuduhan ini sangat berat, sebagaimana dinyatakan dalam 2 hadis di bawah ini:

Dari Abu Dzar r.a. : bahwasanya dia mendengar Nabi SAW bersabda : Tidak boleh seorang lelaki menuduh seorang lelaki yang lain dengan fasik dan tidak boleh juga dengan kafir, jika tidak akan berbaliklah tuduhan itu kepada penuduhnya sekiranya yang tertuduh tidak begitu. 

HR Bukhari dan Muslim. Terjemah Sahih Bukhari hadis no 1709

Dari Abdullah r.a. Nabi SAW bersabda : Mencaci orang Islam itu suatu kejahatan dan membunuhnya adalah kekafiran. 

Terjemah Sahih Bukhari hadis no 1868

Semula kami mau berdiam diri saja dan tidak merespon tuduhan-tuduhan itu, karena dari pada jawab-menjawab, adalah lebih baik kita memperbaiki kelemahan diri dan lebih mempergiatkan perjuangan membangunkan Islam. Apa perlunya dilayan tuduhan-tuduhan dari orang-orang yang kalaupun dia faham, nescaya dia tidak akan membantu perjuangan Islam melalui Global Ikhwan ini.

Namun, kami mengambil keputusan untuk menjawab juga melalui sebuah tulisan dengan maksud sebagai memberi tahu masyarakat Islam, khususnya di Papua, bahwa aqidah Global Ikhwan tidaklah sesat atau rusak seperti yang diceramah-ceramah dan disebar-sebarkan melalui risalah itu. Pada kami, itu semua adalah fitnah semata-mata yang bersumberkan pada hal-hal khilafiah dalam Islam atau ketidak fahaman penulis SMS dan risalah tersebut terhadap yaqazah, tawasul, istigothah dan penggunaan gelaran Radiyallahu Anhu/anha. Menurut Islam, seorang yang dihina harus mempertahankan diri, kalau difltnah, sunat mempertahankan diri, dan kalau aqidahnya dituduh rusak atau sesat, wajib mempertahankan diri. Firman Allah yang bermaksud :

Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (Al Baqarah: 191)

Sebab itulah syariat Islam memerintahkan supaya kita menolak fitnah. Apalagi terhadap tuduhan sesat.

Melalui tulisan ini kami mencoba untuk menjelaskan persoalan-persoalan yang dibangkitkan penyebar SMS tersebut dengan hujjah-hujjah ayat-ayat Al Qur’an, Hadis dan pendapat-pendapat ulama muktabar tentang ke-3 hal di atas yang dijadikan alasan penulis untuk menyatakan bahwa akidah Global Ikhwan adalah rusak. Kami berusaha untuk tidak menulis hal-hal yang berkaitan dengan pribadi dan syaksiah penulis SMS tersebut. 

Semoga penjelasan dalam tulisan ini dapat menghilangkan kekeliruan masyarakat terhadap Global Ikhwan yang dulunya bernama Darul Arqam. Semoga masyarakat (yang termakan fitnah) tidak menanggung dosa karena campur tangan dalam hal tersebut. Semoga ianya menjadi bahan pemikiran untuk penulis SMS dan risalah itu untuk lebih berhati-hati dalam membuat tuduhan yang sangat berat yang berkaitan dengan aqidah, karena kalau yang kita tuduh itu akidahnya tidak rusak atau tidak sesat, maka berdasarkan hadis di atas, tuduhan itu akan berbalik kepada si penuduh, yaitu penuduhlah yang akidahnya rusak dan sesat. Karena itu berhati-hatilah membuat tuduhan.

Yaqazah : Berjumpa Rasulullah SAW Secara Jaga (Bukan Mimpi) dan Mendapat Panduan dari Beliau

Yaqazah atau pengalaman berjumpa dengan Rasulullah SAW secara jaga (bukan mimpi), berkomunikasi, berdialog dan mendapat panduan dari Baginda SAW bukan hanya dialami oleh Abuya Ashaari dan sekarang isteri beliau Ummu Hatijah Aam, tapi banyak dialami oleh ulama-ulama besar bahkan orang-orang awam. Bahkan di zaman modern ini ada pengalaman beberapa orang awam yang mengaku berjumpa dan mendapat panduan dari Rasulullah SAW yang dapat kita lihat di situs youtube.

Dalam buku Tsunami Membuktikan Abuya Putra Bani Tamim (Satria Piningit) Abuya Ashaari mengaku bahwa beiau senantiasa didatangi atau berjumpa dengan Rasulullah secara ruh. Pada halaman 60 buku itu tertulis :

“Dan selain dari itu, saya selalu didatangi oleh Rasulullah SAW secara roh. Bila ditanya benarkah saya orangnya? Dan setiap kali itulah Baginda menjawab: Ya, Tuanlah Putra Bani Tamim. Tuan dirindui dan ditunggu sejak saya belum wafat lagi. Yakni sejak Tuan belum lahir ke dunia lagi. Bila Allah lahirkan, setiap saat saya bersama Tuan, mendoakan dan menolong sehingga perjuangan sudah sampai ke sini!”

Benarkan pengakuan Abuya Ashaari ini? Bagaimana ia dapat terjadi sebab semua umat Islam tahu bahwa Rasulullah SAW sudah wafat lebih 1400 tahun yang lalu? Tentu saja kejadian ini tidak masuk ke dalam akal manusia ‘modern’ yang sudah dirusak oleh sistem pendidikan sekuler yang tidak mempercayai dan meyakini benda-benda ghaib. Padahal Allah Maha berkuasa untuk menjadikan semuanya termasuklah mempertemukan orang yang masih hidup dengan orang yang sudah wafat, mempertemukan Abuya Ashaari dengan Rasulullah SAW, berkomunikasi, berdialog dan mendapat panduan dari Rasulullah SAW. Hal ini tidak berarti bahwa wahyu belum habis dan Al Qur’an belum sempurna dan juga tidak berarti hadis nabi masih dapat dikeluarkan. 

1. Penjelasan tentang masih hidupnya para Rasul, Nabi, Wali, Syuhada dan Solihin sesudah fisik mereka wafat

Walaupun Rasulullah SAW sudah wafat 1400 tahun yang lalu, tetapi sebenarnya beliau masih ‘hidup’.

Dalam Al Qur’an Allah berfirman :

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Al Baqarah 154

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Al Imron 169

Melalui ayat ini Allah memberitahu bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah hidup. Banyak hadis yang mengatakan hal yang sama. Dalam Kitab Zarqoni, yaitu Syarah kitab Mawahibul Ladunniyah juz 5 halaman 332, disebutkan sebuah hadis yang maksudnya:

Para Nabi hidup di dalam kubur mereka, senantiasa dalam keadaan bersholat. Riwayat Baihaqi

Kitab Sahih Muslim menyebut pula begini :

“Sahabat Zubir mengatakan bahwa Rasulullah SAW sesudah menziarahi kubur bersama sahabat-sahabat baginda, telah mengajarkan para sahabat itu dengan ayat yang bermaksud : ‘Salam atasmu hai penduduk kampung mukminin dan muslimin dan kita insya Allah akan mengikuti kamu. Kami memohon afiat untuk kami dan untuk kamu”. Hadis Riwayat Muslim

Melalui hadis ini fahamlah kita bahwa Rasulullah SAW pernah berkata-kata dengan ahli kubur. Apakah Rasulullah SAW berkata-kata dengan jasad yang sudah hancur? Siapakah ahli kubur yang masih hidup itu? Mereka ialah para nabi, syuhada, auliya, ulama yang takutkan Allah dan orang soleh.

Saidina Jaafar dalam kitab Barjanzi menuliskan bahwa :

Adalah rohaniah Siti Maryam dan rohaniah Asiah hadir pada malam Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Mereka hidup ratusan tahun sebelum kelahiran Rasulullah SAW, sudah tentu yang hadir adalah ruh mereka yang terus hidup dan bertugas walau jasad mereka sudah wafat.

Pada malam rasulullah SAW dimikrajkan beliau telah bertemu dengan NABI Musa a.s. Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Muslim dan Nasa’I dikatakan : “Pada malam israk aku melalui Nabi Musa a.s. di Katib Ahmar, beliau berdiri sholat di kuburannya.” Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an :

Terjemahan : kamu janganlah ragu-ragu tentang bertemu dengannya (Nabi Musa) pada malam Mikraj. As Sajdah 23. 

Menurut Tafsir Tobari juz 26 halaman 112, dalam menafsirkan ayat ini, menurut Qatadah : Janganlah kamu dalam keraguan bertemu dengannya pada malam engkau dibawa israk itu (berjumpa Nabi Musa a.s yang telah wafat). Nabi Musa menangis. Hal ini terdapat dalam Sahih Bukhari yang berbunyi : 

Aku bertemu dengan Nabi Musa di langit ke-6, apabila aku melaluinya, beliau menangis. Aku bertanya kepadanya : Mengapa sebabnya engkau menangis? Beliau menjawab, Karena seorang muda lelaki yang diutus selepasku (Nabi Muhammad SAW) umatnya lebih banyak masuk ke syurga dari umatku sendiri (Bani Israel). 

Dalam Kitab Al Azkar oleh Imam Al Hafidz Syeikhul Islam Mahyuddin Abi Zakaria Yahya bin Syarfu An Nawawi Addimasygi As Syafei menyebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan dari Kitab Tarmizi. Dari Abu Mas’ud r.a.

Rasulullah SAW bersabda : “Aku bertemu dengan Nabi Ibrahim a.s. di malam aku di israk mikrajkan. Ia berkata, “wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu dan khabarkan kepada mereka bahwa syurga itu tanahnya subur di mana air yang suci dan bersih dan sesungguhnya syurga itu lapang dan hasil tanamannya ialah subhanallah, wal hamdulillah, wa la ila ha ilallah, wallahu akbar. Berkata Tarmizi, hadis ini adalah hasan.

Dalam kitab-kitab yang memuat kisah Israk Mikraj Rasulullah SAW, telah masyhur khabar yang mengatakan beliau SAW telah bertemu dengan semua nabi-nabi, mengerjakan sholat bersama-sama mereka bahkan bertanya kepada mereka. Nabi Musa menyuruh Rasulullah SAW memohon kepada Allah untuk mengurangkan jumlah waktu sholat dari 50 kali sehari semalam kepada 5 kali sehari semalam. Karena para Rasul dan Nabi hidup dalam kubur mereka, maka kemungkinan untuk bertemu dan belajar dengan mereka adalah lojik dan dapat diterima.

Imam Abusy Syaif dalam kitabnya Ghautsul Ibad menulis sebuah hadis yang bermaksud :

“sesungguhnya sebahagian sahabat nabi telah mendirikan sebuah bangunan (khemah) di atas sebuah kuburan yang tidak diduga bahwa itu kuburan manusia, tiba-tiba tanah itu merupakan kuburan manusia yang ketika itu sedang membaca surat Al Mulk. Lantas sahabat itu memberitahukan kejadian itu kepada Nabi SAW, maka berkata Nabi SAW, “Dialah surah yang dapat menghindarkan dan menyelamatkan dari siksa kubur”

Dalam kitab Sharsuh Sudur oleh Imam As Sayuti, pada halaman 206 ada menuliskan begini :

‘Imam Syafei bercerita waktu beliau di Mekkah terdapat mayat seorang pemuda di pintu Makkah. Mayat itu tersenyum dan berkata : “wahai Abu Said, bahwa para kekasih Allah itu hidup walaupun mereka mati dan mereka berpindah dari satu negeri ke satu negeri”

Dalam kitab yang sama, Imam As sayuti menulis lagi :

Syeikh Ali Abi Arruzabari bercerita dia masuk ke dalam lahad seorang fakir (orang yang selama hidupnya penuh ibadah kepada Allah), maka ketika kafan bagian kepala dibuka, kemudian diletakkan ke tanah, tiba-tiba mata si fakir terbuka dan berkata, “Wahai Aba Ali, jangan engkau hinakan aku di hadapan Yang Menghinakan aku.” Maka aku bertanya, “wahai tuan, adakah hidup selepas mati?”. “Ya, saya hidup dan setiap kekasih Allah adalah hidup. Sesungguhnya aku akan menolong engkau dengan kedudukan aku kelak.”

Itulah diantara dalil-dalil yang dinyatakan oleh Imam-Imam muktabar tentang masih hidupnya para rasul, nabi, wali, syuhada dan solihin sesudah fisik mereka mati. Untuk mendapatkan hadis-hadis lain yang mutawattir, sahih, masyhur lagi hasan tentang hal ini, saya anjurkan merujuk kepada kitab Ambahul Adzkiya fi hayatil anbiya’ oleh Imam Al Hafiz Jalaludin Abdur Rahman As Sayuti.

Baiklah sekarang kita mengetahu bahwa para kekasih Allah itu masih hidup, tapi apakah mereka dapat dijumpai dan diminta tolong?

2. Penjelasan Yaqazah wa Musyafahah

Ketahuilah bahwa pertemuan-pertemuan itu bukanlah dalam mimpi tetapi secara “Yaqazah wa Musyafahah” (jaga dan berbincang). Dalam kitab yang sama juga disebutkan:

“Syeikh Jalaluddin As Sayuti pernah membuat pengakuan bahwa dia berjumpa secara “yaqazah wa musyafahah” sebanyak 75 kali dengan Rasulullah SAW. Kemudian Syeikh Abu Hasan As Syazali dan muridnya Abil Abbas Al Mursyi dan selain keduanya, pernah membuat pengakuan begini : ‘Jikalau terlindunglah kami dari melihat Rasulullah SAW dengan sekelip mata saja bukanlah kami dianggap dari orang Islam.’ Pertemuan secara jaga ini berlaku selepas wafatnya Rasulullah SAW memandangkan Syeikh Abu Hasan tidak hidup sezaman dengan Rasulullah SAW.”

Dari kutipan di atas jelaslah bahwa Syeikh Abu Hasan As Syazali dan muridnya Abil Abbas Al Mursyi senantiasa berjumpa, berkomunikasi dan mendapat panduan dari Rasulullah SAW. 

Bersambung…

.

Kongsikan kepada yang lain
Share

anjang

Seorang hamba Allah yang sedang berusaha mendapatkan rasa takutkan Allah dan rindukan Nabi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *