*** Harga Sebuah Kebenaran!***

Kongsikan kepada yang lain
Share

Pada tahun 60 H, ketika Saiyidina Muawiyah bin Abu Sufyan meninggal dunia, penduduk Irak mendengar berita bahwa Saiyidina Husain bin Ali belum berbaiah kepada Yazid bin Muawiyah, maka orang-orang Irak mengirimkan utusan kepada Saiyidina Husain yang membawakan baiah mereka secara bertulis kepadanya. Penduduk Irak tidak mahu Yazid bin Muawiyah yang menjadi khalifah, bahkan kelompok mereka yang sebenarnya diasaskan oleh musuh Islam tidak menginginkan Saiyidina Muawiyah, Osman, Umar, dan Abu Bakar menjadi khalifah, yang mereka inginkan adalah Saiyidina Ali dan anak keturunannya menjadi pemimpin umat Islam. Itu hanya helah mereka, jika Saiyidina Ali menjadi khalifah pun, mereka tetap akan belot dan degil. Melalui utusan tersebut sampailah 500 pucuk surat lebih yang menyatakan akan membaiah Saiyidina Husain sebagai khalifah.

Setelah surat itu sampai di Mekah, Saiyidina Husain tidak terburu-buru membenarkan isi surat itu. Ia mengirimkan sepupunya, Saiyidina Muslim bin Aqil, untuk meneliti kebenaran kabar baiah ini. Sesampainya Saiyidina Muslim di Kufah, ia menyaksikan banyak orang yang sangat menginginkan Saiyidina Husain menjadi khalifah. Lalu mereka membaiah Saiyidina Husain melalui perantara Saiyidina Muslim bin Aqil. Baiah itu terjadi di kediaman Hani’ bin Urwah.

Khabar ini akhirnya sampai ke telinga Yazid bin Muawiyah di ibu kota kekhalifahan, Syam, lalu ia mengutus Ubaidullah bin Ziyad menuju Kufah untuk mencegah Saiyidina Husain masuk ke Irak dan menghapuskan pemberontakan penduduk Kufah terhadap kekhalifahan. Ketika Ubaidullah bin Ziyad tiba di Kufah, masalah ini sudah sangat memanas. Ia terus menanyakan perihal ini hingga akhirnya ia mengetahui bahwa kediaman Hani’ bin Urwah adalah sebagai tempat berlangsungnya pembaiatan dan di situ juga Saidina Muslim bin Aqil tinggal.

Ubaidullah menemui Hani’ bin Urwah dan menanyakannya tentang suasana di Kufah. Ubaidullah ingin mendengar sendiri penjelasan langsung dari Hani’ bin Urwah walaupun sebenarnya ia sudah tahu tentang segala berita yang beredar. Dengan berani dan penuh tanggung jawab terhadap keluarga Nabi (Saiyidina Muslim bin Aqil adalah anak saudara Nabi), Hani’ bin Urwah mengatakan, “Demi Allah, sekiranya (Muslim bin Aqil) bersembunyi di kedua telapak kakiku ini, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu!” Ubaidullah lantas memukulnya dan memerintahkan agar ia ditahan.

Mendengar kabar bahwa Ubaidullah memenjarakan Hani’ bin Urwah, Saiyidina Muslim bin Aqil bersama 4000 orang yang membaiatnya mengepung istana Ubaidullah bin Ziyad. Pengepungan itu terjadi di siang hari.

Ubaidullah bin Ziad merespon ancaman Saiyidina Muslim dengan mengatakan akan mendatangkan sejumlah pasukan dari Syam. Ternyata gertakan Ubaidullah membuat Syiah (pembela) Husain ini takut. Mereka pun berkhianat dan lari meninggalkan Saiyidina Muslim bin Aqil hingga tinggal 30 orang saja yang bersama Saiyidina Muslim bin Aqil, dan sebelum matahari terbenam hanya tinggal Saiyidina Muslim bin Aqil seorang diri.

Saiyidina Muslim pun ditangkap dan Ubaidullah memerintahkan agar ia dibunuh. Sebelum dibunuh, Saiyidina Muslim meminta izin untuk mengirim surat kepada Saiyidina Husain, keinginan terakhirnya dikabulkan oleh Ubaidullah bin Ziyad. Isi surat Saiyidina Muslim kepada Saiyidina Husain adalah “Pergilah, pulanglah kepada keluargamu! Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya penduduk Kufah telah berkhianat kepadamu dan juga kepadaku. Orang-orang pendusta itu tidak memiliki pandangan (untuk mempertimbangkan masalah)”. Saiyidina Muslim bin Aqil pun dibunuh, padahal hari itu adalah hari Arafah.

Saiyidina Husain berangkat dari Mekah menuju Kufah di hari tarwiyah. Ramai para sahabat Nabi menasihatinya agar tidak pergi ke Kufah. Di antara yang menasihatinya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abu Said al-Khudri, Abdullah bin Amr, saudara tiri Saiyidina Husain, Muhammad al-Hanafiyah dll.

Saiyidina Abu Said al-Khudri RA mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah seorang penasihat untukmu, dan aku sangat menyayangimu. Telah sampai berita bahwa orang-orang yang mengaku sebagai Syiahmu (pembelamu) di Kufah menulis surat kepadamu. Mereka mengajakmu untuk bergabung bersama mereka, janganlah engkau pergi bergabung bersama mereka karena aku mendengar ayahmu –Ali bin Abi Thalib- mengatakan tentang penduduk Kufah, ‘Demi Allah, aku bosan dan benci kepada mereka, demikian juga mereka bosan dan benci kepadaku. Mereka tidak memiliki sikap memenuhi janji sedikit pun. Niat dan kesungguhan mereka tidak ada dalam suatu permasalahan (mudah berubah). Mereka juga bukan orang-orang yang sabar ketika menghadapi pedang (penakut)’.

Saiyidina Abdullah bin Umar RA, “Aku hendak menyampaikan kepadamu beberapa kalimat. Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi SAW Kemudian memberikan dua pilihan kepada baginda antara dunia dan akhirat, maka beliau memilih akhirat dan tidak mengiginkan dunia. Engkau adalah darah dagingnya, demi Allah tidaklah Allah memberikan atau menghindarkan kalian (ahlul bait) dari suatu hal, kecuali hal itu adalah yang terbaik untuk kalian”. Saiyidina Husain tetap enggan membatalkan keberangkatannya. Saiyidina Abdullah bin Umar pun menangis, lalu mengatakan, “Aku kirimkan engkau kepada Allah dari pembunuhan”.

Setelah meneruskan keberangkatannya, datanglah kabar kepada Saiyidina Husain tentang kematian Saiyidina Muslim bin Aqil. Saiyidina Husain pun sedar ia perlu kembali tetapi bila hendak pulang menuju Mekah atau Madinah, anak-anak Saiyidina Muslim mengatakan, “Janganlah engkau pulang, hingga kita menuntut bela atas terbunuhnya ayah kami”. Oleh kerana menghormati Saiyidina Muslim dan bersimpati terhadap anak-anaknya, Saiyidina Husain akhirnya tetap berangkat menuju Kufah dengan tujuan menuntut hukuman bagi pembunuh Muslim.

Bersamaan dengan itu Ubaidullah bin Ziyad telah mengutus al-Hurru bin Yazid at-Tamimi dengan membawa 1000 pasukan untuk menghalang Saiyidina Husain agar tidak memasuki Kufah. Bertemulah al-Hurru dengan Saiyidina Husain di Qadisiyah, ia cuba menghalangi Husein agar tidak masuk ke Kufah.

Ketika Saiyidina Husain menginjakkan kakinya di daerah Karbala, tibalah 4000 pasukan lainnya yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad dengan pimpinan pasukan Umar bin Saad. Saiyidina Husain mengatakan, “Apa nama tempat ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Kemudian Husein menanggapi, “Karbun (musibah) dan balaa’ (bencana).”

Melihat pasukan dalam jumlah yang sangat besar, Saiyidina Husain RA menyedari tidak ada peluang baginya. Lalu ia mengatakan, “Aku ada dua pilihan, (1) kalian mengawal (menjamin keamananku) pulang atau (2) kalian biarkan aku pergi menghadap Yazid di Syam.

Engkau pergi menghadap Yazid, tapi sebelumnya aku akan menghadap Ubaidullah bin Ziyad terlebih dahulu kata Umar bin Saad. Ternyata Ubadiullah menolak jika Husein pergi menghadap Yazid, ia menginginkan agar Saiyidina Husain ditawan menghadapnya. Mendengar hal itu Saiyidina Husain menolak untuk menjadi tawanan.

Terjadilah peperangan yang sangat tidak seimbang antara 73 orang di pihak Saiyidina Husain berhadapan dengan 5000 orang pasukan Irak. Kemudian 30 orang dari pasukan Irak dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi berpihak dan bergabung dengan Saiyidina Husain Peperangan yang tidak seimbang itu menewaskan semua orang yang menyokong Saiyidina Husain, hingga tinggal Saiyidina Husain seorang diri. Orang-orang Kufah merasa takut dan malu untuk membunuhnya, masih ada sedikit rasa hormat mereka kepada darah keluarga Nabi Muhammad SAW. Namun ada seorang laki-laki yang bernama Amr bin Dzi al-Jausyan –semoga Allah menghinakannya- melepaskan anak panah lalu mengenai Saiyidina Husain. Saiyidina Husain pun terjatuh lalu orang-orang mengeroyoknya, Saiyidina Husain akhirnya syahid, semoga Allah meridhainya. Ada yang mengatakan Amr bin Dzi al-Jausyan-lah yang memotong kepala Saiyidina Husain sedangkan dalam riwayat lain, orang yang memenggal kepala Saiyidina Husain adalah Sinan bin Anas, Allahu a’lam.

Semoga Allah merahmati dan meridhai Saiyidina Husain dan orang-orang yang terbunuh bersamanya. Di antara ahlul bait yang terbunuh bersama Saiyidina Husain adalah:

– Anak-anak Saiyidina Ali bin Abi Thalib: Abu Bakar, Muhammad, Osman, Ja’far, dan Abbas.

– Anak-anak Saiyidina Husein bin Ali: Ali al-Akbar dan Abdullah.

– Anak-anak Saiyidina Hasan bin Ali: Abu Bakar, Abdullah, Qosim.

– Anak-anak Saidina Aqil bin Abi Thalib: Ja’far, Abdullah, Abdurrahman, dan Abdullah bin Muslim bin Aqil.

– Anak-anak dari Saiyidina Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib: ‘Aun dan Muhammad.

Dari Ummu Salamah bawasanya Jibril datang kepada Nabi SAW “…Jibril mengatakan, “Apakah engkau mencintai Husain wahai Muhammad?” Nabi menjawab, “Tentu” Jibril melanjutkan, “Sesungguhnya umatmu akan membunuhnya. Kalau engkau mau, akan aku tunjukkan tempat dimana ia akan terbunuh.” Kemudian Nabi diperlihatkan tempat tersebut, sebuah tempat yang dinamakan Karbala.

Kita sangat bersedih dengan kematian cucu kesayangan Rasulullah SAW juga zuriat-zuriat Rasulullah SAW yang lain. Kita belajar bagaimana rasa pemimpin bila hanya dengan memegang tongkat yang dibuat dari kayu Abanus terasa sangat sayu, pilu dan rindu dengan Saiyidina Husain RA kerana diceritakan kepala Saiyidina Husain RA dikandar ke Mesir menggunakan kayu Abanus.

Oleh itu bila kita memegang samada tongkat ataupun tasbih yang dibuat dari kayu abanus, marilah tiru rasa hati pemimpin yang bergetar hatinya, bertambah rasa SPR terhadap cucu Rasulullah SAW yang dibunuh secara kejam kerana kayu dari jenis yang sama ada jasa membawa kepala cucu Rasulullah SAW yang suci ke benua Afrika. Anjang ada satu tasbih kayu Abanus yang digunakan sejak bersama DIHA di Haramain 2010. Tapi selama ini tak pandai nak membina rasa dengan menggunakan tasbih ini kerana tidak tahu kisah kaitan kayu Abanus dengan kepala Saiyidina Husain yang mulia, juga tak dicerdikkan roh untuk menambah rasa.

Itulah harga kebenaran.

Kebenaran rupanya kena dibayar dengan darah.

Kebenaran rupanya kena dibayar dengan air mata.

Kebenaran rupanya kena bayar dengan rasa;

Sayu!

Pilu!

dan Rindu!

P/s

Meskipun ia merupakan tragedi yang tidak dapat dilupakan, namun dengan kehendak Allah SWT, Dia telah memelihara zuriat Saidina Husain RA yang kekal sehingga ke hari ini. Di antara jalur keturunan Saidina Husain RA yang paling besar dan berpengaruh saat ini ialah jalur keturunan Ba-‘Alawi yang bercabang hingga lebih dari seratus buah keluarga besar seperti al-Haddad, al-Saqqaf, al-Kaf, al-Habsyi, al-‘Attas, al-Bar, al-‘Idrus, al-Yahya, al-Masyhur, Ben Syihab, Ben Sumait, Ben Salim, Ben Hafiz, al-Mahdhar, al-Junaid, al-Haddar dan sebagainya. Yang paling penting di sini, mereka bukanlah dari golongan penganut ajaran Syiah, sama ada Imamiyyah mahupun Rafidhah, kerana mereka adalah pejuang-pejuang sejati Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Kongsikan kepada yang lain
Share

anjang

Seorang hamba Allah yang sedang berusaha mendapatkan rasa takutkan Allah dan rindukan Nabi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *