Tuan Nasir Melawat Masjid Agung Demak

Kongsikan kepada yang lain
Share

Tuan Nasir dan rombongan melawat Masjid Agung Demak

SEMARANG 14.03.2022
Pengerusi Eksekutif GISBH, Tuan Nasiruddin Mohd Ali dan rombongan telah mengadakan lawatan ke Masjid Agung Demak di sini hari ini dalam rangka kembara seluruh Indonesia Silaturrahim, ziarah, dakwah dan tijarah juga lawatan kerja ke projek-projek GISBH di Indonesia.

Masjid Agung Demak ini merupakan masjid lama yang dibangunkan oleh Raden Patah dari Kerajaan Demak dibantu oleh para Walisongo pada abad ke-15 Masehi. Masjid ini termasuk salah satu dari masjid-masjid yang tertua di Indonesia.

Ia terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Berada di dataran dan pusat bandar Demak dan tidak sukar untuk ditemukan.

Masjid Agung Demak dahulunya adalah tempat berkumpulnya Walisongo yang menyebarkan agama Islam di tanah jawa, oleh kerana itulah Demak mendapat jolokan kota wali. Tuan Nasiruddin dan rombongan dapat melawat ke ruang sembahyang dan mendapat penerangan mengenai empat tiang yang setiap satunya dibina sendiri oleh Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga.

1. Sunan Gresik

Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim dianggap sebagai orang pertama yang menyebarkan Islam di Jawa.

Ia pertama kali datang ke desa Sembolo, sekarang Desa Laren di kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.

Strategi dakwahnya dimulakan dari perdagangan, yang dilanjutkan dengan pendekatan politik.

Sunan Gresik kemudian menjalin hubungan dengan penguasa saat itu. Sunan Grasik juga mendirikan pesantren dan masjid untuk menyebarkan Islam.

2. Sunan Ampel

Nama sebenar Sunan Ampel ialah Raden Rahmat. Sunan Ampel lahir pada tahun 1401. Wilayah dakwahnya berada di sekitar Surabaya. Ia juga memiliki pesantren Ampeldenta yang terletak di daerah Denta, Surabaya.

Strategi dakwahnya yang terkenal adalah dengan mendidik para dai atau juru dakwah. Kemudian, ia menikahkan banyak juru dakwah dengan putra-putri penguasa bawahan Majapahit.

3. Sunan Kudus

Nama sebenar Sunan Kudus ialah Ja’far Shadiq, ia lahir pada tahun 1400. Wilayah dakwahnya adalah di Kudus, Jawa Tengah.

Sunan Kudus terkenal tegas dalam menegakkan ajaran syariat Islam. Di masanya, ia dikenal sebagai eksekutor Ki Ageng Pengging dan Syaikh Siti Jenar.

Strategi dakwah yang digunakan Sunan Kudus untuk menyebarkan Islam adalah dengan mendekati masyarakat melalui keperluan hidup mereka. Ia mengajarkan alat-alat pertukangan, seni pertukangan emas, membuat keris pusaka, dan lain sebagainya.

4. Sunan Giri

Nama sebenar Sunan Giri ialah Muhammad Ainul Yakin, beliau lahir pada tahun 1442. Orang tuanya adalah Syaikh Maulana Ishaq bersama Dewi Sekardadu, puteri Menak Sembuyu yang merupakan seorang penguasa wilayah Balambangan di hujung kerajaan Majapahit.

Sunan Giri dikenal sebagai raja sekaligus mursyid. Ia berperanan penting dalam pengembangan dakwah di Nusantara. Strategi dakwahnya yang terkenal adalah dengan memanfaatkan kekuasaan, perniagaan, dan pendidikan.

Dengan cara dakwah tersebut, pengaruh Sunan Giri mencapai wilayah Banjar, Martapura, Pasir, Kutai, hingga Nusa Tenggara dan Maluku.

5. Sunan Gunung Jati

Nama sebenar Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah. Ia lahir pada tahun 1448 di Kaherah, Mesir.

Di Mesir, ia adalah putra Sultan Hud dan pernah menjadi putera mahkota untuk penerus raja Mesir, menggantikan ayahnya, tetapi ia menolak dan memutuskan untuk menyebarkan ajaran Islam dengan ibunya di wilayah Jawa.

Strategi dakwah yang dilakukan Sunan Gunung Jati adalah dengan menguatkan kedudukan politik. Ia menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh di Cirebon, Banten, dan Demak untuk memudahkan dakwahnya.

6. Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga atau Raden Said lahir pada tahun 1450 di Tuban. Ayahnya adalah Tumenggung Wilatikta Bupati Tuban.

Strategi dakwah Sunan Kalijaga amat terkenal melalui seni dan budaya. Ia mahir menjadi dalang wayang kulit, menciptakan bentuk-bentuk wayang, dan lakon-lakon carangan dalam wayang Jawa.

7. Sunan Muria

Sebagai putera Sunan Kalijaga, Sunan Muria yang nama sebenarnya Raden Umar Said atau Raden Said mewarisi darah seni ayahnya. Ia dianggap sebagai sunan termuda di antara para Wali Songo lainnya.

Dalam menyebarkan Islam, Sunan Muria melestarikan seni gamelan dan boneka sebagai peralatan dakwah. Dia menciptakan beberapa lagu dan tembang untuk mempraktikkan ajaran Islam.

8. Sunan Bonang

Sunan Bonang lahir ada tahun 1465 serta nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Julukan Sunan Bonang berasal dari salah nama desa di kabupaten Rembang, iaitu desa Bonang.

Sunan Bonang dikenal amat pandai dengan ilmu Fekah, Usuluddin, Taswuf, seni, sastra, arsitektur, dan sebagainya.

Wilayah dakwahnya adalah daerah Kediri. Di sana, Ia mengajarkan Islam melalui wayang, tembang, dan sastra sufi. Karya sastra terkenal yang digubah Sunan Bonang adalah Suluk Wujil.

9. Sunan Drajat

Nama sebenar Sunan Drajat ialah Raden Qasim atau Syarifuddin. Ia lahir pada tahun 1470 dan merupakan putra bungsu Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila.

Wilayah dakwahnya berada di Paciran, Lamongan. Strategi dakwahnya terkenal dengan pendidikan akhlak kepada masyarakat.

Di Paciran, Sunan Drajat mendidik masyarakat untuk mengambil berat kebajikan fakir miskin. Ia menjunjung tinggi kesejahteraan umat. Selain itu, Sunan Drajat juga dikenal dengan pengajaran teknik membuat rumah dan khemah. Ini sebahagian pengenalan ringkas para Wali Songo. Masjid Demak inilah tempat mereka berkumpul berbincang menyusun gerakan dakwah ketika itu.

Bumbung masjid berbentuk limas yang bersusun tiga pula merupakan gambaran ajaran Islam terdiri daripada Iman, Islam dan Ihsan.

Terdapat banyak makam-makam raja-raja Kesultanan Demak di kompleks Masjid Agung Demak, di antaranya adalah Sultan Fattah sendiri yang merupakan raja pertama kasultanan Demak. Di kompleks ini juga terdapat Muzium Masjid Agung Demak, yang menempatkan berbagai arkeologi sejarah berkaitan Masjid Agung Demak, di antaranya kayu bangunan asli masjid buatan Sunan Kalijaga, barang-barang peninggalan para wali lainnya, serta catatan silsilah para ulama hingga bersambung ke jalur keturunan Nabi Muhammad SAW.

Di akhir ziarah, para peserta rombongan sempat bergambar kenangan di hadapan Masjid Agung Demak. Moga keberkatan perjuangan para Wali Songo mengalir kepada seluruh anggota rombongan sebagai bekalan untuk meneruskan perjuangan di era kini.

Alhamdulillah anjang dah pernah sampai ke Masjid Demak ini ketika mengiringi Dr Mohd Hisham Sultan At-Tamimi pada tahun 2019. Ada anjang kongsikan beberapa gambar dan video dalam link di bawah.

Di tiang Sunan Kalijaga

Selamat berbuka dan moga mendapat puasa yang membina takwa… Aamiin.

Otw ke Karnival Ramadhan Putrajaya

3.46pm, Apr 16, 2022

Jangan lupa subscribe, share, like dan komen-komen la sikit

anjang

Mengembara bersama GISBH di atas bumi Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: